Thursday, January 31, 2013
sebab & kesempatan
Semua yang terjadi di dunia ini pasti ada sebabnya. Begitupun dengan segala hal yang terjadi dalam suatu hubungan, baik itu kejadian menyenangkan atau kejadian yang tidak menyenangkan.
Tapi terkadang ketika kita dihadapkan dengan kejadian yang tidak menyenangkan dalam suatu hubungan, kita sering lupa untuk mencari tahu sebab dari kejadian tersebut. Malah sering melakukan hal-hal yang justru membuat kejadian tersebut semakin tidak menyenangkan.
Apakah semua hal yang terjadi dalam suatu hubungan antara dua orang, bisa disebabkan oleh salah satu nya saja? Menurut saya tidak, semua hal yang terjadi dalam hubungan antar dua orang pasti melibatkan keduanya.
Oukay, mungkin ada yang bilang kondisi lingkungan sekitar bisa menjadi sebab terjadinya suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Tapi bukankah setiap orang bisa dengan bebas bereaksi terhadap suatu kondisi yang terjadi disekitar mereka. Artinya suatu kondisi bisa menjadi suatu “sebab” karena campur tangan orang.
Jika kita berkutat pada “sebab” maka suatu kejadian terjadi karena suatu sebab, dan suatu seba itu terjadi karena suatu sebab juga dan akan seperti itu seterusnya, entah sampai dimana ujungnya.
Sebenarnya saya kurang suka dengan kata “sebab” dan banyak orang tidak suka juga disebut sebagai “penyebab” terjadinya hal yang tidak menyenangkan. Jadi bagaimana kalau kata “sebab” saya ganti dengan kata “kesempatan”
Dalam suatu hubungan antar dua orang, salah seorang akan melakukan sesuatu jika ada kesempatan, dan kesempatan itu secara sadar atau tidak diberikan oleh orang yang satunya lagi.
Misalnya, jika si X kurang perhatian maka X memberikan kesempatan kepada si Y untuk mencari atau menerima perhatian lebih dari orang lain. Si X pasti punya alasan mengapa dia menjadi kurang perhatian, yang selanjutnya alasan itu bisa disebut sebab.
Jadi kalau diurutkan seperti ini, sebab dari X, memberikan kesempatan untuk Y dan menjadi hal tidak menyenangkan untuk X dan Y.
Yah, stidak-tidaknya mengurangi satu kata “sebab” dengan satu kata “kesempatan “.
Sunday, November 18, 2012
curhat street photography
Setiap kali saya memiliki gadget baru selalu terselip perasaan cemas. Cemas kalau saya tidak bisa memaksimalkan penggunaan gadget tersebut, sehingga tanpa saya sadari saya terbawa ke zona mainstream bersama masyarakat Indonesia yang memiliki gadget atas nama life style. Dan saya pernah ada di zona tersbut, dimana pada saat itu saya memiliki sebuah dslr baru yang penggunaannya jauh dari maksimal.
Sedikit berniat melakukan pembelaan untuk diri saya sendiri, kemudian saya mencari tahu apakah dslr benar-benar termasuk kedalam kategory “gadget”. Dan tentu saja jawabannya, ya dslr adalah gadget.
Lalu saya flash back, ke masa dimana saya sangat memimpikan memiliki dslr. Saya ingat-ingat kembali alasan apa saja yang membuat saya yakin bahwa saya harus memiliki dslr. Satu persatu alasan itu muncul kembali di ingatan saya, dan 2 alasan yang sangat kuat kenapa saya harus memiliki dslr adalah, karena saya senang memotret dan saya senang photo editing. Maka mulai saat itu minimal 3 hari dalam seminggu saya membawa dslr kemana-mana untuk hunting foto.
Tak hanya itu, saya juga mulai mem-follow beberapa account berbau photography di twitter dan tumblr. Sampai pada suatu hari account @fotobdg nge-tweet link e-book street photography karya street photographer berkebangsaan Swiss yaitu Thomas Leuthard yang berjudul Street Face & Going Candid . Ketika di pertengahan halaman saya mempelajari e-book tersebut saya sempat berpikir, bahwa foto-foto yang selama ini saya hasilkan berada di genre street photography. Kemudia saya pelajari kedua e-book tersebut sampai habis, dan bersamaan dengan selesainya mempelajari e-book tersebut saya berkeyakinan bahwa saya memang sudah berada di genre street photography dan saya berniat akan lebih fokus di genre tersebut.
Saya mulai getol mem-posting street photography di account tumblr kesayangan saya. Tanggapan berupa komentar dan pertanyaan mengenai street photography yang saya posting dari beberapa follower di tumblr cukup membuat saya yakin bahwa street photography adalah passion saya. Hal ini mebuat saya ingin mencari tahu lebih banyak mengenai street photography di seluruh dunia.
sumber foto : www.irfansept.tumblr.com
Dengan keajaiban internet keinginan saya terkabul, mengetahui beberapa karya, artikel, e-book, interview, tips-tips dari banyak street photographer kenamaan dunia seperti Bruce Gilden, Alex Webb, Eric Kim, Thomas Leuthard dan masih banyak lagi. Saya juga bisa bertukar informasi dengan para penggiat street photography di berbagai belahan dunia lewat tumblr dan twitter.
Street photography banyak memberikan pelajaran buat saya, tidak hanya mengenai photography itu sendiri. Street photography juga menuntut saya untuk lebih memperhatikan dan peka terhadap apa saja yang terjadi di sekitar saya. Hal-hal yang selalu saya lakukan / perhatikan / pikirkan / setiap kali saya hunting foto di jalanan atau di public area adalah :
Untuk mendapatkan foto mereka, kita harus membaur dengan mereka. Untuk membaur dengan mereka, kita harus tahu apa yang mereka rasakan. Hal ini mengajarkan saya untuk selalu down to earth.
sumber foto : www.irfansept.tumblr.com
Memotret orang-orang yang berjualan di pagi buta, yang menyapu jalanan, yang sedang bergumul di truk sampah, yang sedang membuka toko, yang sedang bebenah tempat jualan di trotoar, yang sedang berolahraga, yang sedang mengayuh sepeda, mengajarkan saya untuk selalu bersemangat dan supaya jangan gampang mengeluh.
sumber foto : www.irfansept.tumblr.com
Memotret para tuna wisma yang masih tertidur lelap di emperan toko, orang lanjut usia yang masih harus bekerja, tuna daksa yang tetap berjalan dengan tongkatnya, anak jalanan yang sarapan pagi seadanya, mengajarkan saya untuk selalu bersyukur.
sumber foto : www.irfansept.tumblr.com
Ada yang bilang salah satu teknik yang harus dikuasai oleh para penggiat street photography adalah kemampuan untuk menjadi “invisible” ketika memotret. Kalau saya pribadi justru tidak ingin menjadi "invisible" ketika memotret di jalanan, karena saya ingin mereka tahu bahwa saya sedang memotret dan sedang belajar untuk menjadi rendah hati, untuk selalu bersemangat, untuk tidak mengeluh dan belajar untuk selalu bersyukur dari mereka yang saya potret.
Kemudian muncul pertanyaan, apa tujuan saya mem-posting street photography di beberapa account socmed ?. Tidak bisa dipungkiri sebagai manusia biasa saya butuh komentar, saya butuh pujian, saya butuh kritik, meskipun seringkali kriti mambuat kita dongkol kalau kita tidak berlapang dada. Terserah orang bilang kalau saya sangat menginginkan pengakuan, sangat haus pujian, sok-sok-an ingin di kritik, tapi jujur ketiga hal itu yang bisa memotivasi saya sekaligus menjadi alat ukur kemampuan saya dalam hal photography dan street photography.
Tapi satu alasan lain yang tidak kalah penting, kenapa saya mem-posting street photography di ranah socmed adalah, saya ingin berbagi cerita lewat foto.
sumber foto : www.irfansept.tumblr.com
Street photography adalah salah satu cara saya menikmati hidup. Dengan ini pula street photography resmi menjadi salah satu passion saya. Ya…., meskipun saya bukan photographer tapi saya jatuh cinta dengan street photography.
Sunday, October 14, 2012
bahagia itu pilihan
Sabtu kemarin, ketika pagi datang, kemudian saya terbangun dari tidur, tanpa saya sadari saya telah memutuskan untuk menjadi orang yang bahagia.
Setelah cuci muka (iya saya nggak mandi) kemudian saya menyeruput 2 kali kopi di cangkir mama saya tercinta, lalu saya berjalan menuju suatu perumahan di dekat rumah saya sambil membawa kamera.
Dulu ketika saya masih kecil, perumahan tersebut adalah perumahan khusus pegawai Patal. Patal yaitu nama BUMN yang bergerak di bidang textile, dan dulu sangat terkenal, tetapi sekarang muncul isu akan gulung tikar.
Perumahan yang dulu sangat asri, dilengkapi dengan fasilitas seperti lapagan sepak bola, masjid yang megah dan sekolah taman kanank-kanak, sekarang menjadi brantakan tak beraturan.
Mengapa saya mengunjungi perumahan ini? Karena saya selalu terpesona dengan deretan gunung yang ada di belakang deretan rumah salah satu blok di perumahan tersebut yang bisa saya lihat dari tengah-tengah lapangan sepak bola.
Lihatlah, saya langsung disambut dengan pemandangan matahari yang muncul perlahan di balik deretan gunung.
Puas telah mendapatkan beberapa foto sunrise, tidak serta merta saya cepat-cepat meninggalkan tempat ini.
Saya masih ingin bahagia. Kata seorang teman, bahagia itu sederhana asalkan kita peka. Saya melihat sekeliling, saya mendapati deretan pohon di kiri kanan jalan yang sudah tidak hijau lagi dengan dedaunan berwarna kuning yang berguguran ke tanah.
Kemudian saya melihat lebih dekat setiap tanaman liar yang tumbuh diantara rerumputan, embun yag masih tertinggal di rerumputan, ulat yang merayap di dedaunan, dan kupu-kupu yang malas terbang.
Saya abadikan semuanya dengan kamera, saya bahagia. Dan saya mengerti apa yang dimaksud dengan bahagia itu sederhana.
Kebahagiaan saya tak berakhir sampai disitu, ketika saya melihat hasil tangkapan gambar saya di kamera, saya tersenyum dan saya masih bahagia. Ketika saya memindahkan foto-foto tersebut ke laptop, kemudian saya lihat satu persatu saya tersenyum dan saya bahagia. Dan ketika saya menulis tulisan ini pun saya masih bahagia.
Ternyata saya bisa bahagia berhari-hari karena pada suatu pagi ketika saya bangun tidur tanpa saya sadari saya telah memutuskan untuk menjadi bahagia.
Maka mulai sekarang, setiap saya bangun tidur di pagi hari, saya akan memutuskan, saya akan menjadi orang yang bahagia.
Bahagia itu pilihan, bukan takdir.
Wednesday, August 29, 2012
bukan doa agama tertentu
Di salah satu bab buku Seperti Sugai yang Mengalir, Paulo Coelho meceritakan suatu kejadian, dimana ada seorang teman yang memberikan selebaran yang berisi sebuah doa. Dan ternyata tanpa dia sangka doa tersebut adalah sebuah tulisan yang dia tulis beberapa tahun silam.
Berikut rangkaian doa yang ditulis oleh Paulo Coelho
Tuhan, lindungilah keraguan-keraguan kami, sebab keraguan pun sebentuk doa. Keraguan-lah yang membuat kami bertumbuh dan memaksa kami untuk tak takut melihat sekian banyak jawaban yang tersedia untuk satu pertanyaan. Kabulkanlah doa kami….
Tuhan, lindungilah keputusan-keputusan kami, sebab membuat keputusan pun sebentuk doa. Setelah bergulat dengan keraguan, beri kami keberanian untuk memilih antara satu jalan dengan jalan lainnya. Biarlah kiranya pilihan YA tetap YA dan pilihan TIDAK tetap TIDAK. Setelah kami memilih jalan kami, kiranya kami tidak pernah menoleh lagi atau membiarkan jiwa kami digerogoti penyesalan. Kabulkanlah doa kami….
Tuhan, lindungilah impian-impian kami, sebab bermimpi pun sebentuk doa. Kiranya usia maupun keadaan-keadaan tida menghalangi kami untuk tetap mempertahankan nyala api harapan dan kegigihan yang suci itu didalam hati kami. Kabulkanlah doa kami….
Tuhan, berikanlah antusiasme kepada kami, sebab antusiasme pun sebentuk doa. Antusiasme-lah yang memberitahu kami bahwa hasrat-hasrat kami penting dan layak diperjuangkan semaksimal mungkin. Antusiame-lah yang mengukuhkan kepada kami bahwa segala sesuatu tidaklah mustahil asalkan kami sepenuhnya berkomitmen pada apa yang kami lakukan. Kabulkanlah doa kami….
Tuhan, lindungilah kami, sebab hidup ini adalah satu-satunya cara bagi kami untuk mengejawantahkan kuasa keajaiban-Mu. Kiranya kami tetap mengolah benih menjadi gandum, kiranya kami bisa tetap mengubah gandum menjadi roti. Dan semua ini hanya dimungkinkan apabila kami memiliki kasih. Karenanya janganlah kami ditinggalkan seorang diri. Biarlah selalu ada Engkau disisi kami, dan ada orang-orang lain, laki-laki dan perempuan-perempuan yang menyimpan keraguan-keraguan, yang bertindak dan bermimpi dan merasakan antusiasme, yang menjalankan setiap hari dengan sepenuhnya membaktikannya kepada kemuliaan-Mu. Amin….
Doa Yang Terlupakan – Seperti Sungai yang Mengalir
Paulo Coelho
Monday, August 27, 2012
kita sudah berakhir
gambar asli diambil dari egajones
Senyum kita, sapa-mu, jawab-ku, dan tempat kita bertemu tidak ada yang berubah. Tapi hari ini ada sesuatu yang harus berubah.
“Ada menerka di setiap tatapan-mu”. Kau membuka percakapan kedua setelah percakapan saling sapa dengan kalimat tersebut.
Kemudian aku bentuk sebuah busur dibibir, sambil memandangmu lekat, berusaha meyakinkan-mu bahwa tak pernah ada menerka tentang-mu atau tentang perasaan-mu.
Kau membalas menatap-ku, lebih lekat dari tatapan-ku. Aku menyerah…., ingin aku menunduk dan berkata, ”iyah selama ini aku menerka”.
Tapi seketika aku urungkan niat itu, aku kembali membalas tatapanmu.
“Dasar…., tak pernah mau mengalah” ejekan yang sering kau berikan kepadaku.
Aku bisa saja membalas ejekan-mu dengan berkata bahwa kamu seorang phlegmatis akut, seorang yang hanya akan diam saja ketika aku marah, seorang yang lebih senang menerima keputusan daripada membuat keputusan.
Tapi lagi-lagi aku hanya terdiam, tak membalas ejekanmu.
Kau menggoyang-goyangkan tanganmu tepat didepan kedua mataku, usaha membuat-ku berkedip dan menghentikan pandangan-ku kepada-mu.
“Aku risih tau…., diliatin kaya gituh. Segitu kangennya kamu sama aku sampe ngeliat aku nggak ngedip”.
Aku hargai usahamu mencairkan suasana lewat goyangan tangan dan kalimat agak manja itu. Tapi itu tak cukup untuk membuatku memulai bicara. Membuatku memulai membicarakan kalimat panjang yang seminggu lalu aku kirim lewat email. Karena hari ini aku hanya akan berkata di seperempat jam terakhir pertemuan ini, “kita sudah berakhir”.
2 hari menjelang lebaran
Senyum kita, sapa-mu, jawab-ku, dan tempat kita bertemu tidak ada yang berubah. Tapi hari ini ada sesuatu yang harus berubah.
“Ada menerka di setiap tatapan-mu”. Kau membuka percakapan kedua setelah percakapan saling sapa dengan kalimat tersebut.
Kemudian aku bentuk sebuah busur dibibir, sambil memandangmu lekat, berusaha meyakinkan-mu bahwa tak pernah ada menerka tentang-mu atau tentang perasaan-mu.
Kau membalas menatap-ku, lebih lekat dari tatapan-ku. Aku menyerah…., ingin aku menunduk dan berkata, ”iyah selama ini aku menerka”.
Tapi seketika aku urungkan niat itu, aku kembali membalas tatapanmu.
“Dasar…., tak pernah mau mengalah” ejekan yang sering kau berikan kepadaku.
Aku bisa saja membalas ejekan-mu dengan berkata bahwa kamu seorang phlegmatis akut, seorang yang hanya akan diam saja ketika aku marah, seorang yang lebih senang menerima keputusan daripada membuat keputusan.
Tapi lagi-lagi aku hanya terdiam, tak membalas ejekanmu.
Kau menggoyang-goyangkan tanganmu tepat didepan kedua mataku, usaha membuat-ku berkedip dan menghentikan pandangan-ku kepada-mu.
“Aku risih tau…., diliatin kaya gituh. Segitu kangennya kamu sama aku sampe ngeliat aku nggak ngedip”.
Aku hargai usahamu mencairkan suasana lewat goyangan tangan dan kalimat agak manja itu. Tapi itu tak cukup untuk membuatku memulai bicara. Membuatku memulai membicarakan kalimat panjang yang seminggu lalu aku kirim lewat email. Karena hari ini aku hanya akan berkata di seperempat jam terakhir pertemuan ini, “kita sudah berakhir”.
2 hari menjelang lebaran
viva la virgo
Berbahagialah kita (iyah saya dan kalian) yang berbintang virgo, karena ini adalah musimnya virgo berulang tahun. Tapi buat yang benci ulang tahun karena bertambah tua, yaudahlah mau digimanain lagi, emang udah waktunya bertambah umur.
Gegara tadi pagi liat tweet-tweet-nya salamatahri yang ngebahas tentang virgo, dan ternyata banyak banget hal positif dari orang yg berzodiak virgo (karena saya virgo, jadi yang negatif juga dianggap positif ajah), jadi gatel deh pengen posting penjelasan kece dari salamatahri mengenai orang berzodiak virgo. Jadi menurut salamatahri virgo itu :
Emang bener sih, semua orang-orang virgo yang bertebaran di kehidupan saya semuanya perfeksionis, kalaupun ada kenalan orang virgo yang nggak perfeksionis langsung akan saya jauhi dan saya anggap virgo kafir.
Biasanya sih efek buruk yang sering menimpa saya yaitu ketika ngerjain sesuatu bareng-bareng pasti saya gak percayaan sama orang, takut jelek lah, takut kotor lah, dan akhirnya pekerjaan kelompok itu dikerjakan oleh saya sendiri. tapi kalau hasilnya bagus, sempurna seperti yang diharapkan, rasa capek kerja sendirian terbayar kok (Hahahahaha...., suombong).
Ouh kalau yang satu ini jelas sudah terbukti, beberapa teman, sahabat dan keluarga sering menugasi saya untuk melakukan analisa. Dan kalau hasil kerja udah pasti rapih, karena kalau gak rapi biasanya hasil kerja itu akan saya buang dan saya ngerjain lagi dari awal, jadi apaun yang terjadi harus rapih.
Nah...., buat orang-orang yang pernah menuduh kalau saya ini matrealistis, sebenarnya saya itu bukan matrealistis, tapi saya itu REALISTIS. Okeh! Cam-kan itu baik-baik :P
Ya...., emang sih kenyataan kadang terasa pahit. Tapi kami orang virgo selalu mengemukakan kenyataan yang biasanya orang anggap itu kritik, padahal kita cuma membicarakan kenyataan saja sih hahahahaha....
Nah...., bukan berarti kaum virgo itu menopouse yah, nggak pms jadi kita nggak mood2an, tapi emang pada dasarnya kita orangnya stabil ajah, urusan apapun kami bisa diandalkan :)
Jangan sekali-kali mencoba bersilat lidah dengan orang virgo, kalau anda tidak ingin dipermalukan.
Boleh di cek meja kerja, kamar tidur, isi tas kaum virgo, dijamin bersih dan rapi. Eits... koleksi kecengan juga rapih loh....
Sejauh apapun kita melangkah, rumah dan keluarga adalah pelabuhan kaum virgo, kenyamanan dan kehangatan merekalah yang selalu membuat kaum virgo kepincut oleh rumah dan keluarga.
Buat kalian yang bingung cari pacar, jelaslah virgo itu pacar ideal dalam hal memberi perhatian, mau bukti???? yaudah jadian sama saya hahahahaha.....
Nah
itu dia penjelasan kece dari
salamatahri mengenai kami kaum virgo. Kece kan
penjelasannya, iyalah penjelasan kece hanya untuk orang-orang kece seperti kami
kaum virgo. Eh
salamatahri nya juga kece loh…., makasih ya Dea…..
Sunday, August 26, 2012
dibuang sayang
gambar asli diambil dari : Mars Hill
Thomas Leuthard seorang street photographer berkebangsaan Swiss pernah menuliskan salah satu tips penyimpanan file photo di salah satu e-booknya. Kira-kira bunyinya seperti ini, “hapuslah foto-foto yang menurut anda tidak bagus atau gagal, karena apabila tidak dihapus akan menyusahkan anda di kemudian hari”.
Meskipun Thomas Leuthard salah satu street photographer favorit saya, tapi entah kenapa saya tidak setuju dengan tips yang dia kemukakan diatas.
Kalimat “menyusahkan anda dikemudian hari” saya tafsirkan menjadi “akan menyusahkan kita ketika kapasitas hardisk yang kita miliki penuh”.
Jika kita megalami kesulitan dalam memilah sekian banyak foto yang harus kita hapus ketika hardisk kita penuh, kenapa kita tidak membeli hardisk baru saja, atau mungkin kalau ingin lebih hemat, kita bisa memindahkan / meng-copy foto-foto tersebut ke dalam beberapa dvd.
Sebenarnya ketidak setujuan saya bukan dikarenakan kita bisa membeli hardisk baru atau bisa memindahkan file kedalam betuk dvd, tapi lebih kepada keyakinan saya bahwa suatu saat bisa saja saya memerlukan foto-foto yang pernah saya anggap tidak bagus / gagal untuk sebuah project.
Dan hal itu terbukti. Beberapa hari yang lalu menjelang hari kemerdekaan Indonesia, saya berencana mem-posting di tumblr beberapa foto yang cukup Indonesia tapi tidak mainstream (bukan foto bendera, seorang veteran, lomba panjat pinang, atau apapun yangg sering muncul di iklan-iklan kemerdekaan televisi terutama hehehe….).
Karena keterbatasan waktu, diamana hari kemerdekaan tahun ini bertepatan di bulan Ramadhan, dimana kegiatan saya disetiap bulan Ramadhan menjadi dua kali lipat lebih sibuk (sok sibuk, padahal ng-eles hahahah….) jadi saya putuskan untuk membuka folder-folder foto lama saya, dan saya menemukan kedua foto dibawah ini.
indonesia independence day
indonesian couples
Ini bukan kali pertama saya mendapatkan foto yang pas untuk sebuah project dari folder foto lama. Jadi wajar dong kalau saya nggak setuju dengan tips yang diutarakan Thomas Leuthard untuk menghapus foto yang kita anggap tidak bagus / gagal karena dianggap akan menyusahkan kita dikemudian hari.
Begitupun dengan kejadian yang kurang bagus atau kegagalan dimasa sekarang, mungkin kita tidak perlu berusaha keras untuk meghapuskan kegagalan tersebut dari ingatan kita supaya kita tidak terus-terusan bersedih. Karena sebuah kegagalan bisa jadi pelajaran untuk meraih keberhasilan dimasa yang akan datang. Tsssaaaaahhhhh….., udah lumayang bijak kan…..
Thomas Leuthard seorang street photographer berkebangsaan Swiss pernah menuliskan salah satu tips penyimpanan file photo di salah satu e-booknya. Kira-kira bunyinya seperti ini, “hapuslah foto-foto yang menurut anda tidak bagus atau gagal, karena apabila tidak dihapus akan menyusahkan anda di kemudian hari”.
Meskipun Thomas Leuthard salah satu street photographer favorit saya, tapi entah kenapa saya tidak setuju dengan tips yang dia kemukakan diatas.
Kalimat “menyusahkan anda dikemudian hari” saya tafsirkan menjadi “akan menyusahkan kita ketika kapasitas hardisk yang kita miliki penuh”.
Jika kita megalami kesulitan dalam memilah sekian banyak foto yang harus kita hapus ketika hardisk kita penuh, kenapa kita tidak membeli hardisk baru saja, atau mungkin kalau ingin lebih hemat, kita bisa memindahkan / meng-copy foto-foto tersebut ke dalam beberapa dvd.
Sebenarnya ketidak setujuan saya bukan dikarenakan kita bisa membeli hardisk baru atau bisa memindahkan file kedalam betuk dvd, tapi lebih kepada keyakinan saya bahwa suatu saat bisa saja saya memerlukan foto-foto yang pernah saya anggap tidak bagus / gagal untuk sebuah project.
Dan hal itu terbukti. Beberapa hari yang lalu menjelang hari kemerdekaan Indonesia, saya berencana mem-posting di tumblr beberapa foto yang cukup Indonesia tapi tidak mainstream (bukan foto bendera, seorang veteran, lomba panjat pinang, atau apapun yangg sering muncul di iklan-iklan kemerdekaan televisi terutama hehehe….).
Karena keterbatasan waktu, diamana hari kemerdekaan tahun ini bertepatan di bulan Ramadhan, dimana kegiatan saya disetiap bulan Ramadhan menjadi dua kali lipat lebih sibuk (sok sibuk, padahal ng-eles hahahah….) jadi saya putuskan untuk membuka folder-folder foto lama saya, dan saya menemukan kedua foto dibawah ini.
indonesia independence day
indonesian couples
Ini bukan kali pertama saya mendapatkan foto yang pas untuk sebuah project dari folder foto lama. Jadi wajar dong kalau saya nggak setuju dengan tips yang diutarakan Thomas Leuthard untuk menghapus foto yang kita anggap tidak bagus / gagal karena dianggap akan menyusahkan kita dikemudian hari.
Begitupun dengan kejadian yang kurang bagus atau kegagalan dimasa sekarang, mungkin kita tidak perlu berusaha keras untuk meghapuskan kegagalan tersebut dari ingatan kita supaya kita tidak terus-terusan bersedih. Karena sebuah kegagalan bisa jadi pelajaran untuk meraih keberhasilan dimasa yang akan datang. Tsssaaaaahhhhh….., udah lumayang bijak kan…..

























